Festival pengungsi Seoul kembali digelar sebagai bagian peringatan World Refugee Day, menghadirkan ragam budaya dan musik dari komunitas pengungsi yang tinggal di Korea Selatan. Acara kelima bertajuk “Shall We Walk?” berlangsung di Ttukseom Hangang Park, di bawah Cheongdam Bridge dekat Jayang Station pada Seoul Metro Line 7, Sabtu lalu, meski diguyur hujan.

Penyelenggara, sebuah organisasi nonpemerintah bernama Refugee pNan, menata acara di ruang terbuka dengan tujuan agar pertemuan antarwarga berlangsung alami dan mengikis prasangka. Alih-alih ceramah atau diskusi formal, festival menempatkan pengungsi sebagai pusat—mereka yang tampil berbagi kisah hidup, budaya, dan bakat unik.
Pertunjukan budaya dari berbagai negara
Panggung festival dipenuhi ragam pertunjukan tradisional dan modern. Penonton disuguhkan irama gendang khas Burundi, tarian budaya dari Ethiopia dan komunitas Jumma, serta musik dari Sudan, Pakistan, dan Afghanistan. Selain itu, ada penampilan lagu-lagu Korea, nyanyian tradisional Afrika, hingga penampilan K-pop, yang bersama-sama menonjolkan keberagaman budaya yang dibawa oleh para pengungsi.
Format acara memberi kesempatan bagi para pengungsi untuk bercerita lewat seni dan musik, bukan sekadar sebagai objek pemberi kesaksian. Dalam suasana santai di tepi sungai Han, pertunjukan ditata agar interaksi penampil dan penonton terasa langsung dan personal, membantu pengunjung lebih memahami kehidupan sehari-hari komunitas pengungsi di Korea.
Ruang terbuka untuk mengikis jarak dan prasangka
Refugee pNan merancang festival ini dengan pendekatan yang sengaja menghindari struktur formal. Acara di ruang terbuka memungkinkan pengunjung bertemu dan berinteraksi dengan para pengungsi dalam konteks yang lebih kasual. Tujuannya jelas: mengurangi jarak sosial dan kesalahpahaman yang sering melekat pada istilah “pengungsi” melalui pengalaman bersama, bukan hanya lewat penjelasan akademis atau pidato resmi.
Dengan menempatkan warga pengungsi sebagai pelaku aktif dalam perayaan budaya, festival mencoba menggeser narasi dari sekadar bantuan atau problematisasi menuju pengakuan atas kontribusi budaya yang mereka bawa. Format ini memberi ruang bagi cerita-cerita personal yang mudah diterima publik karena disampaikan melalui musik, tarian, dan seni pertunjukan.
Suasana, lokasi, dan makna lokal
Lokasi di Ttukseom Hangang Park, tepat di bawah Cheongdam Bridge dekat Jayang Station, memberikan latar yang terbuka dan mudah diakses bagi publik. Meskipun cuaca hujan, suasana festival tetap hangat karena pertunjukan yang beragam dan interaksi langsung penampil dan pengunjung. Pilihan lokasi di area publik ini sejalan dengan niat penyelenggara untuk mempermudah pertemuan lintas komunitas tanpa sekat.
Festival semacam ini menegaskan bahwa pengungsi tidak hanya membutuhkan ruang aman, tetapi juga pengakuan sebagai bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan setempat. Melalui pertunjukan dan pertemuan informal, pengunjung dapat melihat sisi kemanusiaan dan kreativitas yang seringkali tersamarkan oleh diskursus politik atau opini publik.
Meski digelar singkat dan sederhana, acara kelima “Shall We Walk?” menjadi momen penting untuk memupuk pemahaman dan solidaritas. Dengan mengandalkan seni sebagai bahasa bersama, festival ini membuka ruang bagi hubungan yang lebih dekat komunitas pengungsi dan masyarakat lokal, sekaligus menyoroti bagaimana keberagaman budaya dapat memperkaya kehidupan kota.
