“Ovy on the Drums” membuka percakapan dengan sapaan singkat — «Aló» — dan aksen Colombia yang langsung terasa. Meski suaranya sedikit serak, itu bukan masalah bagi produser yang karyanya sudah menjadi lagu pengiring musim panas bagi jutaan pendengar.

Pria yang tumbuh menghabiskan hari di depan FL Studio di rumahnya di Medellín ini menulis dan memproduksi hits besar seperti ‘Tusa’ bersama Karol G dan Nicky Minaj, serta ‘Yo y Tú’ bersama Quevedo dan Beéle. Baginya, tidak ada rumus instan untuk sukses: «La fórmula no la tiene nadie. Ni siquiera Bad Bunny tiene la clave para hacer un éxito. Todo pasa por tener buen gusto para la música y hacer buenas canciones. Yo pienso que hago buena música, pero también he producido temas que no han tenido el mismo recorrido. Al final, cada canción tiene un objetivo y conecta con un tipo de público».
Menghadapi era TikTok dan kejenuhan industri
Ovy menilai tantangan terbesar saat ini adalah menyambungkan sebuah lagu dengan audiens yang lebih luas dan bertahan lama. Format-format baru seperti TikTok memungkinkan lagu cepat viral, tetapi tak jarang tren itu pun cepat memudar. Dalam beberapa tahun ia pernah sengaja membuat bagian yang mudah dibagikan atau ditarikan, namun kini strategi itu tak lagi menjamin keberhasilan global seperti sebelumnya.
Menurut Ovy, industri musik kini «muy saturada», sehingga kunci untuk tetap relevan adalah menemukan suara berbeda yang memberi identitas tersendiri. Selain itu, konsistensi rilis juga penting: jika seorang artis berhenti lama, publik mudah melupakan.
Perjalanan, eksplorasi, dan sumber inspirasi
Perjalanan tur menjadi kesempatan bagi Ovy untuk menyelami tren lokal dan menangkap ide-ide baru. Ia bahkan mengecek daftar lagu teratas di negara-negara yang jauh dari pasar utamanya — dari Noruega hingga Irán — untuk menemukan ritme, melodi, atau warna suara yang bisa memicu inspirasi.
Tanggal 28 de julio ia akan tampil di Concert Music Festival dan akan singgah di Sancti Petri. Sebelumnya ia sempat singgah di Cádiz, tetapi kali ini ingin lebih lama mengeksplor kota yang menurutnya penuh seni. Mengenai rencana menikmati suasana setempat, ia mengutip perkataan perwakilannya: «la idea era vivir bien la experiencia, salir en un botecito y conocer Cádiz de verdad».
AI dalam proses kreatif dan ciri khas produksi
Ovy tak melihat kecerdasan buatan sebagai ancaman, melainkan alat bantu. «La inteligencia artificial ya forma parte del futuro y ofrece muchísimas posibilidades. Yo la utilizo para inspirarme, por ejemplo para imaginar cómo podría sonar un coro góspel o determinadas ideas musicales», ujarnya. Namun ia menegaskan bahwa manusia-lah yang tetap memegang kendali kreatif.
Baginya, jiwa sebuah lagu — “alma”— tak bisa sepenuhnya digantikan mesin: «No me gusta dejar el resultado tal y como lo genera la IA porque siento que pierde alma. Cuando grabas un instrumento o una voz real, todo tiene un carácter mucho más personal».
Kenangan masa-masa awal juga penting bagi Ovy. Ia mengingat betapa hari-harinya dulu dihabiskan di depan FL Studio: «Me pasaba el día entero delante del FL Studio. Fue una pasión que descubrí. No desayunaba, no almorzaba… Solo quería investigar sonidos, crear melodías y aprender». Koleksi produksi awalnya masih disimpannya, dan suatu saat ia berencana menunjukkan rekaman tersebut.
Bersama nama-nama seperti Bizarrap dan Tainy, Ovy turut mengangkat posisi produser sebagai tokoh yang pantas mendapat pengakuan setara artis. Di panggung live, ia berusaha menjadikan suaranya sendiri sebagai pusat pengalaman: hanya memutar lagu yang ia produksi dan mengubah aransemen agar terasa lebih festival.
Wawancara ditutup saat ia mengucap «bendiciones, papá» sebelum menutup telepon. Setelah menggebrak Sancti Petri menjadi pesta pada 28 de julio, Ovy akan kembali ke studio — berbeda dari kamar kecil tempat ia mulai, namun dengan tujuan yang sama: menemukan suara berikutnya yang akan menjadi lagu musim panas.
